Senin, 19 Desember 2016

Merasakan Ruang dalam Museum Tsunami




Mungkin kita yang tinggal di derah Aceh, sudah pergi ke Museum Tsunami. Namun semua yang pernah kesana tidak semuanya tau apa apa saja filosofi dari setiap ruang ruang yang ada di dalam museum tersebut. nah, pada kesempatan kali ini saya akan berbagi sedikit tentang filosofi pada  ruang  Museum Tsunami.

Gedung yang berbentuk kapaL dan di rancang oleh Arsitek terkenal Indonesia (Ridwan Kamil) ini, memiliki daya tarik sendiri bagi turis maupun masyarakat Aceh. mungkin bagi pembaca yang ingin berkunjung ke Museum Tsunami alangkah baiknya anda menyewa Guide supaya anda bisa menanyakan tentang filosofi tersebut lebih jelas.

 Tentang Museum Tsunami

Untuk mengenang peristiwa Tsunami yang terjadi tahun 2004 di Aceh, maka dibagunlah Museum Tsunami di likasi kejadian. Museum bersejarah itu telahdiresmikan oleh mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada akhir Februari 2009. Seperti yang dituturkan sang perancang museum tersebut, Ridwan Kamil, Museum ini harus menjadi simbul struktur yang anti Tsunami, yakni berupa kombinasi antara bagunan panggung yang diangkat (eleveted building) diatas sebuah bukit. 

Lebih jauh ia mengukapkan, pilihan terhadap bagunan panggung terinspirasi dari rumah panggung tradisional Aceh yang terbukti tahan terhadap bencana alam. Sedangkan konsep bukit diambil dari konsep bukit penyelamat (escape hill) sebagai antisipasi jika terjadi Tsunami di masa yang akan datang.
Dalam mendesain Museum, ia mencoba merespon beberapa aspek penting dalan perancangan seperti: memori terhadap peristiwa bencana Tsunami, fungsionalitas sebuah bagunan museum/memorial, identitas kultur masyarakat Aceh, estetika baru yang bersifat modern dan responsif terhadap konteks urban.

Bagunan megah Museum Tsunami tampak dali luar seperti kapal besar yang sedang berlabuh dan jika kita lihat dari atas seperti pusaran air. Sementara di bagian bawah terdapat kolan ikan. Museum  ini merupakan satu satunya di Indonesia dan tidak mustahil akan menjadi Museum Tsunami dunia.

 Halaman Museum Tsunami

Pada halaman Museum penulis merasakan keberisikan yang damai, halaman yang banyak kerikil dan batu kecil, ditambah pohon pohon serta rumputan membuat halaman Meseum terlihat netral dan damai. Letak Meseum di persimpang jalan berhadapan dengan Lapangan Blang Padang, Banda Aceh. Juga membantu penglihatan mata menjadi keramaain di halaman Museum.

Secara materi arsitektur, halaman Museum disebut SKALA RUANG KOTA. Dimana Halaman Museum dikaitkan dengan kota serta lingkungan manusia, sehingga memiliki kebersamaan/keramaian.

Halaman Meseum Tsunami


 Kolam Ikan 

Ruang pada kolam ikan, jika kita memandangnya keatas selagi menyasikan ikan menari di air, kita akan merasa ketakutan. Hal itu penulis rasakan ketika berkunjung ke Museum sebagai materi kuliah. Secara materi hal ini disebut SKALA RUANG MENAKUTKAN
Kolam Ikan Jika dilihat ke atas



Nah, kolam ikan jika tanpa melihat keatas, penulis juga merasakan keramaian. Dimana banyak orang yang duduk santai di batu pinggir kolam. Batu itu sendiri berjumlah 36 yang melambangan Negara Negara yang telah membantu indonesia saat terjadinya Tsunami Aceh. Konon, katanya air pada kolam tersebut adalah air Tsunami yang masih bisa menjadi salah satu saksi dari Tsunami Aceh.
Kolam Ikan jika tidak dilihat ke atsa

                     

Lorong Tsunami
  
Lorong Tsunami

Lorong Tsunami merupakan akses awal pengunjung untuk memasuki Museum Tsunami. Memiliki panjang 30 m dan tinggi 19-23m, yang melambangkan tingginya gelombang Tsunami yang terjadi pada tahun 2004 silam. pada lorong ini, penulis merasa merinding, bulu kedup naik. Dengan air yang mengalir dikedua sisi dinding Museum, ditambah gemuruhnya, cahaya yang remang dan gelap, lorongnya yang sempit, menjelaskan ketakutan masyarakat aceh pada saat Tsunami.

Dari hal diatas, ruang ini memiliki nilai menakutkan pada pengunjung, jujur, penulis merasakan ketakutan saat berjalan asing dari grombolan teman teman. Dari sisi materi arsitektur, Ruang ini disebut juga; SKALA MENAKUTKAN.



           




Ruang Kenangan

Setelah berjalan melewati Lorong Tsunami, pengunjung akan memasuki Ruang Kenangan, ruangan ini memiliki 26 monitor sebagai lambang dari kejadian tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004 silam. setiap monitornya menampilkan gambar dan foto para korban dan lokasi bencana yang melanda Aceh pada saat Tsunami. Sebanyak 40 gambar yang ditampilkan dalam bentuk slide. Gambar dan foto ini seakan mengingatkan kembali kenangan Tsunami yang melanda Aceh atau disebut space of memory yang tidak mudah untuk dilupakan dan dapat dipetik hikmah dari kejadian tersebut.

Pada ruangan ini, penulis merasakan sesuatu yang pengap. Namun sejuk, karena ruangan ini dikelilingi pendingin ruangan, disebelah kanan dinding dilapisi oleh cermin. Menurut pemandu, cermin itu sengaja di letakan agar pengunjung bisa cermin. Sedangkan diatap/awan awan ruang. Kita bisa melihat bnyak bulatan, bulatan tersebut ialah dari kolam. Ruang kenangan terletak dibawah kolam ikan.  


Ruang Kenangan
Ruang Sumur Doa

Melalui Ruang Kenangan pengunjung akan memasuki Ruang Sumur Doa. Ruangan yang berbentuk silinder dengan cahay yang remang dan memiliki ketinggian 30 meter ini memiliki kurang lebih 2.000 nama-nama korban Tsunami yang tertera disetiap dindingnya. Ruangan ini difilosofikan sebagai kuburan masal Tsunami dan pengunjung yang memasuki ruangan ini dianjurkan untuk mendoakan para korban menurut agama dan kepercayaan masing-masing.

Ruangan ini juga mengambarkan hubungan manusia dengan tuhan (habluminallah) yang ditambahdengan tulisan kaligrafi Allah yang tertera di atas cerobong dengan cahay yang mengarah ke atas dan lantunan ayat ayat Al-Qur’an. Ini melambagkan bahwa setiap manusia pasti akan kembali kepada Allah. Penulis merasakan ketakutan pada ruangan ini, merinding seakan ingin menagis ketika berdoa di hati kepada saudara yang terkena Tsunami.


Sumur Doa


Lorong Cerobong

Setelah melewati sumur doa, pengunjung akan melewati lorong cerobong menuju jembatan harapan. Lorong ini sengaja didesain dengan lantai yang berkelok dan tidak rata sebagai bentuk filosofi dari kebingungan dan keputusan masyarakat Aceh saat didera Tsunami pada 2004 silam. kebingungan akan arah tujuan, kebingungan mencari sanak saudara yang hilang dan kebingungan karena kehilangan harta dan benda.

Lorong gelap yang membawa pengunjug menuju cahaya alami melambangkan sebuah harapan bahwa masyarakat Aceh pada saat itu masih memiliki harapan dari adanya bantuan dunia untuk Aceh guna membantu memulihkan kondisi fisik atau psikologis masyarakat Aceh yang pada saat usai bencana mengalami trauma dan harapan besar.

Penulis sendiri pada ruang ini juga pening , ditambah ruangnya yang sempit. Namun ruang ini bisa memberi kenyamanan jika kita tiak berjalan. Secara materi ruang ini disebut; SKALA RUANG INTIM,  Di tambah unsur garis pada sebelah kiri dinding.


Lorong Cerobong

Jembatan Harapan

Lorong membawa pengunjung ke arah jembatan harapan. Disebut jembatan harapan karena melalui jembatan ini pengunjung dapat melihat 54 bendera, dari 54 negara yang ikut serta membantu Aceh pasca Tsunami. Disetiap bendera bertuliskan ‘damai’ dengan bahasa masing masing negara sebagai refleksi perdamaian Aceh dari peperangan dan konflik sebelum Tsunami terjadi. Dengan adanya bencana gempa dan Tsunami, dunia melihat secara langsung kondisi Aceh, mendukung dan membantu perdamaian Aceh, serta turut andil dalan membagun Aceh setelah bencana terjadi.

Penulis merasakan ketakutan saat melewati jembatan, karena memiliki ruang yang besar ditambah jarak antara kolam dan jembatan yang lumayan tinggi dan jika meihat ke kolam akan timbul rasa takut.


Jembatam Harapan
      
mungkin hanya ini yang bisa saya tulis bedasarkan wawancara dengan petugas Museum. jika anda ingin berkunjug ke Museum jangan lupa untuk Menyewa Guidenya ya!, see you!.






Merasakan Ruang dalam Museum Tsunami Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Dzil Ikram

0 komentar:

Posting Komentar