Lelaki Penemu Nikmat


“Fa bi ayyi i rabbikuma tukazziban” 

 
Aku sering pulang melewati Meunasah Gampoeng Lhong Bata di siang hari. Sebab ini Musim kemarau, selalu saja aku tak lupa gunakan topi, karena Matahari memang sangat panas pada November. Padahal, bukan waktunya Musim panas. Entahlah, manusia hanya bisa menerka-nerka segalanya Lalu Tuhan yang memastikanya. Jam 8 pagi kadang aku sudah berada di halte bus sembari menungu bus tiba. Disela itu, juga ku sempatkan membaca berita dari smartphone yang biasa ku simpan disaku tas ku.


Sudah tiga Bulan aku menetap di Negeri yang konon katanya kental dengan Islam ini dan berjuluk Seuramoe Mekah. Aktivitas yang ku lakukan masih begitu saja, tak ada hal yang baru. Dan hal yang tak ku lupa adalah membeli sebotol air mineral ketika turun di Halte yang sama pada siang hari.

Dan aku melewati Meunasah Gampoeng. Jarak antara halte bus dan rumah ku agak sedikit jauh. ada dua lorong untuk pulang ke rumah tapi aku selalu melewati lorong sebelah Meunasah Gampoeng. Dan akhir akhir ini aku sering melihat seorang kakek berjubah putih, ia bersenderan di dinding sembari membaca suatu kitab dengan suara keras. “fa bi ayyi i rabbikuma tukazziban (Maka nikmat tuhan kamu manakah yang kamu dustakan)”. Begitu ia baca, ketika aku melewati pagar Meunasah Gampoeng semakin keras ia baca.

Senja di sore hari tengelam perlahan, menyisakan kesunyian diantara cahayanya. Aku dan surat kabar yang biasa ku langgan masih saja menatap keadaan yang sama. Ibu tetangga yang menyapa dan menawarkan makan malam. Rasa tak enak dan pembeda mengharuskan aku menolaknya.

Malam itu, semilir angin menerpa dedaunan, suaranya sangat kudengar  jelas. Kadang,  aku masih memainkan jari jari dan menatap laptop hingga larut malam.

“tok..tok..tok!” suara ketukan pintu. Aku menarik gorden, lalu ku lihat tak seorang pun di sana. Ku abaikan. Lalu, aku tengelam dalam selimut.
   ***

Tepat matahari diatas kepala, aku turun dari bus. Tetap saja melewati lorong Meunasah Gampoeng. Aku melihat kakek itu lagi. Ia masih bersandaran pada dinding sembari membaca kalimat yang sama dengan suara keras. 

\“fa bi ayyi i rabbikuma tukazziban” 
Aku memberanikan diri untuk masuk kedalam Meunasah Gampoeng. Dan menuju ke arah toilet seraya menatap kakek itu dengan ranar. Sebenarnya itu hanya akal ku, sebab rasa yang semakin penasaran tentang kalimat yang ia baca.

“fa bi ayy i rabbikuma tukazziban”

“Mengapa ia selalu membaca kalimat itu setiap aku melewati Meunasah ini” batin ku berbisik. Diujung pagar aku melihat seorang bapak tua memanggil. Aku menyapanya.

“Apa betul kamu anak yang tinggal disebelah rumah buk Jannah?” tanya beliau. “Iya” jawabku sambil meundukkan kepala ke bawah. “saya geuchik di gampoeng ini, sebagai orang baru kamu harus melapor, nanti tolong sertakan KK (Kartu Keluarga) ke Kantor dibelakang Meunasah ini” serunya.

“Baik pak” tegasku. “Asalamualaikum”. Aku hanya menganggu ketika ia mengucapkan salam.

“fa bi ayy i rabbikuma tukazziban”

Aku mendengar kalimat itu lagi. Setelah berbincang dengan  geuchik Gampoeng. Ia melanjutkan.

“fa bi ayy i rabbikuma tukazziban”

kullu man ‘alahihi fan (semua yang ada di bumi itu akan binasa)”
          
          wa yabqa waj-hu rabbika zul-jalali wal-ikram (tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal)”

“fa bi ayy i rabbikuma tukazziban”

“Sebenarnya apa yang ia baca, mengapa kalimat itu terus diulang”. Aku mencoba mendekat dan berniat ingin menanyakan tentang ini.

“ya ma’ syaral-jinni wal-insi inistata’tun an tanfuzu min aqt aris-samawati wal-ardi fanfuzu, la tanfuzu illa bisultan (wahai golongan jin dan manusia, jika kamu sangguo menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan dari Allah)”

“fa bi ayyi alla i rabbukama tukazziban”

Aku semakin mendekat. Ia memainkan jenggotnya. “kek” tegurku dengan lembut. Ia tak melihat. “kek!” ia menatap ku perlahan, dengan tatapan tajam.

“ada apa nak?” tanyanya lembut. Aku menghela nafas setelah ketakutan. “saya heran, mengapa kakek selalu membaca kalimat itu ketika saya melewati Meunasah Gampoeng”.

“saya memang suka membaca kalimat ini setiap saat, kalimat ini penuh nikmat”

Ia melanjutkan, “Allah menantang manusia dan jin; nikmat manakah dari nikmat-nikmat yang telah mereka rasakan itu yang mereka dustakan. Yang dimaksud dengan pendustaan nikmat-nikmat tersebut adalah kekafiran mereka terhadap Tuhan mereka, karena mempersekutukan tuhan-tuhan mereka dengan Allah. Dalam peribadatan adalah bukti tentang kekafiran mereka terhadap Tuhan mereka, karena nikmat-nikmat itu harus disyukuri, sedangkan syukur artinya menyembah Yang Memberi nikmat-nikmat kepada mereka.”

  Suasana yang tadi tenang tiba tiba di riuhkan angin kencang. “betapa banyak manusia di bumi, mereka sudah lupa bersyukur. mereka hanya ingin meminta tapi lupa pada yang memberi. Meskipun sudah cukup harta tapi masih saja mereka meminta yang lebih” kakek itu membentak keras. Batin ku mulai ketakutan lagi.

“lalu mengapa anda membaca kalimat itu, berulang kali?.”

“kalimat tersebut diulang-ulang dalam surah ini tigapuluh satu kali banyaknya untuk memperkuat tentang adanya nikmat dan untuk memperingatkannya. Dari itu, sambil Dia menyebut satu persatu dari nikmat-nikmat tersebut Dia memisahkannya dengan kata-kata memperingati dan memperkuat tentang adanya nikmat-nikmat tersebut.” Jelasnya.

“Nak, bumi ini semakin menua, manusia sudah tak bisa lagi membedakan nikmat nikmat tuhannya. Semoga kau bisa menjadi pemuda Islam yang bisa menikmati keindahan di bumi dan mensyukuri nikmatnya.”

“maaf kek, saya seorang kristiani”

“hah!” kakek itu terkujut dengan kataku.

“inikah Al-Quran dengan sastranya yang indah itu?” tanya ku. “saya sudah beberapa kali membacanya dan tak pernah paham sekalipun” lanjut ku.

“Al-Quran bukanlah sebuah Kitab suci. Anak anak islam jika ingin bisa membacanya harus belajar iqra dahulu. Dan kita harus dalam keadaan suci membacanya. Jika kau ingin membacanya, masuklah islam dengan hati tenang dan damai.”

“bagaimana cara masuk islam?” tanyaku yakin.

“ucapkanlah dua kalimat syahadat”. Setelah itu, aku dan kakek itu duduk di hadapan sebuah mimbar. Ia lalu memberiku Al-Quran dan berpesan: “pulanglah dan pelajari kitab ini dengan mereka yang mengerti akanya. Jangan sekali kali mengabari keluargamu. Sesungguhnya kau telah memiliki keluarga barumu disini.”

  Sejurus kemudian, kami terdiam. Aku menoleh ke bawah karena kakek menatap ku. Lalu ia menghilang.
***
Para petinggi Gampoeng sedang rapat malam itu. Mereka membahas tentang status kristianiku. “pak geuchik!, saran saya usir saja pemuda itu dari gampoeng kita” ucap salah satu petinnggi Gampeong.

“iya, mungkin saja ia meseonaris yang di tugaskan di Gampoeng ini dan menghasut para pemuda kita” seseorang membetulkan.

“malam ini juga kita usir dia dari Gampoeng kita”

“iya, Sebelum ia bergerak lebih dalam lagi ke pelosok pemuda”

“tenang!, semua bisa di selesaikan dengan baik baik. Malam ini saya akan datang ke rumah pemuda itu” kata pak geuchik dengan nada marah.

Langit malam itu penuh dengan bintang, bulan menerangi gelap di bawah pohon asam, pohon paling besar di Gampoeng itu. “tok..tok” suara pintu yang mengangetkan ku. Awalnya, aku tak ingin membukanya. Karena suatu itu, aku membuka tak seorang pu disana.

tok...tok”. ketukan itu mengagetkan lagi. Ku lihat dari jendela kamar seseorang membawa selembar kertas. Aku bergegas membuka pintu.

“Nak, apa betul kamu seorang kristiani. Bedasarkan KK yang kau titip di kantor tadi kamu seorang kristiani” tanya pak geuchik dengan serius.

“benar pak. Tapi, sekarang saya seorang muslim”. Setelah ku ceritakan tentang kejadian siang itu. Pak geuchik memeluk ku. Aku mulai belajar membaca Al-Quran.

Postingan populer dari blog ini

Sahabatmu, Juga Musuhmu

Tertikung

Kertas Bisikan Rindu