Langit Rantau; Shalat






Akhir-akhi ini aku sering sibuk, aku saja tak tau mengapa aku sesibuk ini. Selama menjalani hidup di rantau, malam adalah waktu yang sempat untuk istirahat. Ya, malam memang dimana orang istirahat pada umumnya. Aku merasa sesibuk ini, berbaring disiang hari saja sudah tak sempat lagi.

Sering kali aku mengejar waktu sekarang, rambut ku saja sudah terlihat berantakan. “kenapa gitu rambut mu mad?” kata Fahri teman ku yang se-angkatan dulu ketika  di   Pondok Pesantren. Dulu aku adalah orang yang suka menata rambut, kadang dua seminggu sekali aku merapikannya jika sudah terlihat panjang.

“Baru pulang sudah pergi lagi” sapa Bu Ani, tetangga sebelah. “hehe iya bu” balasku. Sekali lagi aku ditegur karena terlihat sibuk. Padahal, aku merasa biasa saja, aku hanya mengejar waktu agar selalu tepat waktu dalam segala hal. Kuliah, ke Perpus ngerjain tugas, kumpul sama teman teman. Opps, kumpul sama teman teman pun sudah jarang. Iya, teman teman ku yang dulu se-angkatan di Pondok Pesantren pernah ngechat; “Lupa teman lama ya?”. Kebetulan mereka juga be-rantau, Tapi aku tidak peduli dan menikmati hari hari dilangit rantau.
***
Pagi ini cerah, cuaca bersahabat, namun aku membayang kan macetnya jembatan lamyong jika aku pergi setelat ini ke kampus. Jarak kampus anatara rumahku agak sedikit jauh, Lhong bata-Darusallam. Aku sangat bersemangat kuliah, berbeda dengan ketika aku di SMA dulu, pemalas, mauku hanya menulis, dan menonton.

Tapi hari ini, badan ku tak sehat, rasanya panas didalam danging, kepala berdenyut-denyut. Namun ku paksakan untuk beraktivitas. Setiba di kampus, teman teman menyapaku. “mad, mata mu kenapa merah”  tanya Raka dengan nada perhatian. “oh, biasa begadang semalam” jawabku. Padahal aku tidak bergadang semalam.

Pak febri mulai menjelaskan pelajarannya, beliau mulai menulis di papan tulis. Tapi kepala terus berdenyut, mataku buram, tulisan tulisan dipapan tulis mulai berbayang dimataku. Aku meletakan kepala diatas meja, menutup mata agar terasa tenang.

Semua orang dikelas sibuk dengan urusannya masing masing. Hanya Didit yang tau kepala ku berdenyut denyut karena dia bersebelahan denganku. “mad, minta izin sana sama pak febri, matamu semakin merah, lebih baik istirahat dulu dirumah” seru Didit padaku yang masih meletakkan kepala di meja.

“Iya dit, tapi bisa antarkan ku pulang, sangat tak memungkinkan aku pulang sendiri”. Dengan segala prakata, akhirnya pak febri mengizinkan ku untuk pulang, dan didit mengantarkan ku pulang.
Setiba dirumah aku tergeletak dikasur sendiri. Didit setelah mengantarku langsung kembali ke kampus. Di kamar aku sendiri, badanku mengigil kuat, mata ku semakin penih rasanya. Lalu aku menelpon mamak;

“Asalamulaikum mak” ucapku

Walaikumsalam nak” balas mamak dengan nada kekhawatiran.

“Mak, abang sakit, dari semalam gak enak badan, sekarang badan demam, mata abang merah”

“astaufirullah, udah minum obat nak?”

“belom mak, ini baru pulang dari kampus tadi diantar sama kawan”

Dengan segala perhatiannya, mamak akhirnya meminta bantu buk Mirna untuk membeli obat padaku. Buk Mirna adalah tetangga disebelah kos ku, sejak pertama aku tinggal disini, dia selalu bersikap baik padaku. Kadang ia menawarkan aku sarapan pagi di rumahnya. Buk Mirna datang ke kos ku, dia membeli obat, dan memasaki ku makanan dan teh hangat.

Sejam kemudian, badanku masih terasa sama, belum membaik. Dan tiba tiba Ayah menelpon ku, mungkin setelah tau kabar dari mamak. Bahwa aku sedang sakit. “Asalamualaikum yah” ucapku.
Tanpa menjawab salam ku, ayah langsung bertanya dengan nada perhatian; “lagi sakit ya bang?”. “iya yah” balasku.

“Udah minum obat?”

“Udah yah, tadi Buk Mirna yang beliin” balasku

Makanya jangan sering bergadang, jangan terlalu sibuk dengan kegiatan kegiatan, nanti tinggal pelajaran, juga jangan sering duduk di keude kupi yang ada habisin duit, dan jangan lupa shalat, itu yang paling penting. Kita kemana aja boleh pigi tapi jangan lupa untuk shalat” pesan ayah dengan penuh harap.

“iya yah” jawabku. Setelah itu disekitar sunyi, hanya ada suara kipas angin yang berputar putar. Jam menujukan pukul 01.35, waktu shalat zuhur. Tapi badan ku lemas aku tak berdaya.


***
Angin bertiup kencang, kali ini dinginnya memasuki tulang tulang. Aku terduduk di sebuah taman, sendiri dan berbaring di bangku tua itu. Seketika, ada suara terdengar dari kejahuan. Aku mencari cari sumber suara itu, dari suaranya itu suara seorang kakek kakek tua. Aku menoleh ke kanan-kiri suara itu semakinmendekat.

“Nak, umurmu sudah lebih dari Delapan Belas tahun, kau sudah bisa membadingkan mana baik mana buruk” ucap seorang kakek yang tib tiba berada disebelah kanan bangkuku.
Lalu si kakek melanjutkan; “Dulu ketika kau masih di memondok kau rajin beribadah, kadang kadang kau melakukan shalat malam, shalat duha, dan mengaji. Usai shalat ashar kau selalu menbaca surat Ar-rahman atau Al-waqiah.

Nak, memang tingkat keimanan manusia kadang ia berubah rubah, kadang tinggi kadang rendah. Tapi nak, jangan lupakan yang wajib, sekarang kau terlalu mengejar dunia mu nak!. Shalat lima waktu kau tinggalkan.

Memang nak, manusia lalai akan apa yang telah ia dapatkan. Allah mengabulkan doa, kita berdoa suptaya apa yang kita inginkan sesuai dengan rencana. Namun, setelah dikabulkan kita lupa Allah.
Sekarang, kau saja sudah tak pernah lagi mengaji. Bagaimana dengan hafalan hafalanmu. Kau sangat mudah mengabaikannya. Sudahlah nak, semua kembali padamu, umurku sudah tua” kakek tua itu menatap tajam mataku, aku hanya bisa menjawab “iya”.

Sejurus kemudian, kakek itu menghilang dari hadapanku. Grhh..grhh seperti suara batang pohon yang retak. Aku menoleh keatas, pohon di atas tempat dimana aku duduk terlihat jatuh.” Oh tidak...memang ingin jatuh!” teriakku

Aku berusaha berlari, berpindah tempat. Tapi seperti ada yang menahan tubuhku “arhh..tolong tolong” dan pohon itu menimpa tubuhku. Dua ular piton berukuran besar mendekat. Aku mencoba menyalamat diri, memindahkan batang pohon dari tubuhku.

Dan ular itu semakin mendekat. “SHALAT...SHALAT...SHALAT” aku mendengar suara kakek tadi.
“Aaaaaaaaaaaaa......heh heh!” ternyata hanya mimipi. Sesaat aku terdiam, aku teringat kata ustad dulu kalau kita mimpi buruk berludahlah ke sebelah kiri. Setalah mimipi itu, aku bersegera Shalat meski badanku masih lemas.

Tiba tiba suara hp ku berbunyi, mamak menelpon ku, dan menanyakan kabar ku. “Gimana bang, udah baikan?”.

“Alhamdulillah udah mak” jawabku.

“Baguslah, jangan tinggal tinggal shalat itu bg”. Aku hanya mengiyakan saja, lalu mamak meutup telponnya.

***
Alhamdulillah badan ku sudah mendingan hari ini. Langit hari ini cerah, cukup bershabat. Namun, aku memutuskan tidak kuliah. Karena aku rasa, aku harus banyak istirahat dulu, setelah dua hari terbaring di rumah.

Ada hikmahnya aku sakit, Selama di rumah, aku bisa mengatahui aktivitas orang orang kampung. Pagi sabtu itu misalnya, dimana masyarakat gampoeng Lhong bata mengadakan goto royoeng.

Tapi ada satu anehnya, rumah sebelah kanan dengan rumahku; aku selalu mendengarkan suara anak kecil menangis ketika magrib dan subuh, selama dua hari ini. Terkait dengan ini, niatku ketika terbaring sakit saat itu. Ingin menanyakan hal ini pada buk Mirna saat aku sehat nanti.

Sore itu, ketika langit mulai memerah, tanda matahari akan meninggalkan bumi dan tanda malam akan segera tiba. Buk Mirna sedang bersantai bersama kedua anaknya yang masih kecil, sekiraku umurnya dua tahunlah.

“Buk, makasaih obat kemarin” basa basiku pada buk Mirna

“Oh iya sama sama, gimana udah sehatkan”

“Alhamdulillah udah buk, kan berkat obat ibu”

“Alah..berkat Allah lah” kami tertawa terbahak bahak.

“Buk, rumah sebalah itu, tiap magrib dan subuh saya selalu mendengar suara anak kecil menangis berteriak menyebut mamaknya” tanyaku.

“Oh itu, rumah Tgk ismail, dia selalu memukul anaknya jika tak melaksanakan shalat, dengan rotan yang biasa di bawa ke bale, Kamu dengarnya magrib dan subuh saja, kadang tiap waktu shalat terdengar” jawabnya

Buk Mirna melanjutkan; “Bukannya begitu tunutunan syariat kita, jika anaksudah berusia tujuh tahun bukannya diwajibkan untuk shalat, jika ia tidak mau salat  orangtuanya boleh memukulnya”

“Hek hek hek...mamak....mamak!” suara anak Tgk.Ismail.
“Nah, itu sudah nagis lagi”

Senja itu, aku jadi ingat kakek, ketika aku kecil dulu memukulku jika aku tidak shalat. Biasanya kakek juga mengajaku berjamaah di Mesjid.

bersambung...

Postingan populer dari blog ini

Sahabatmu, Juga Musuhmu

Tertikung

Kertas Bisikan Rindu