Cerita Hujan




Duhai hujan, kau bawa berita rindu hari ini. Tadi setelah shalat zuhur, aku mendapatkan pesan singkat dari seorang sahabat karib. "Kiban rakan?".

"Alhamdulillah sehat" balasku. Setelah panjang lebar bercakap-cakap; ternyata dia sedang berada di Kueta Raja. Akhirnya, aku berjanji bahwa habis shalat azhar nanti akan menjumpainya.

Langit yang mendung dan guyuran hujan, menemani pembicaraan kami. Banyak kisah-kisah kami ceritakan. Juga banyak kenangan yang kami ingat, lalu kami tertawa.

Seketika, aku terkejut saat dia menanyakan tentang Cinta; "kaifa ma'a ha? (bagaimana denganya), masih rindukan padanya?". Aku hanya tersenyum, dan kami pun tertawa hingga orang2 disekitar melirik ke atas kami.

Sekira ku, aku akan lama tak bertemu dengannya, kalau bukan aku yang pergi berkunjung ke negeri Jiran. Tapi tidak, ternyata kami bisa melepas rindu dibawah langit Mesjid Oman.

Duhai Hujan, aku berterimakasih, kertas rinduku tentangnya terjawab cepat. Duhai sahabat, ma'afkan aku tak sempat ku jamu mu dengan baik. Semua karena waktu, lagipun esok lusa kau harus kembali belajar mengaji demi bekalmu, dan aku pun begitu.

Aku yakin akan banyak waktu nanti, untuk kita bisa melepas rindu, bercerita kisah2 dan kenangan disana. Yang pasti kita takan kembali lagi ke masa itu, umur semakin memutih dikepala waktu. Doakan saja umur kita panjang dan kita selalu dalam lindungan-Nya.
Amin ya Allah!

(Lampriet, 18/10)

Postingan populer dari blog ini

Sahabatmu, Juga Musuhmu

Kertas Bisikan Rindu

Tertikung