Pesan Rindu Untuk Dinda






Waktu itu berjalan sangat cepat. Waktu membawa kita menjumpai perpisahan. Perpisahan itu menyedihkan tapi memiliki banyak hikmah. Terkadang kita harus  bisa mengikhlaskan, Mengikhlaskan perpisahan terjadi. Karena Setiap dari manusia pasti akan merasakannya. Seperti yang akan ku rasakan dalam waktu dekat ini.

Namun, perpisahan itu harus punya banyak kesan dan pesan yang di tinggalkan. Hari ini aku berjalan ke tempat yang sering ku huni. Sebuah ruang tua di tempat ku menimba ilmu, ku tatap ruang itu perlahan banyak barang yang kusam. Aku rasa, tempat itu punya banyak kenangan yang susah ku lupakan. Sore itu, hanya ada burung walet yang singah tepat di depan kaki ku. Perlahan aku mendekati ruang itu, aku membasuh jendela yang berdebu dengan jari telunjukku. Ku tatap kedalam, yang terlihat hanyalah rindu. Lalu  Aku pergi meningalkan ruang itu. Aku kesitu hanya karena ingin melihat sebuah kenangan yang layak ku bawa.

Adinda adalah alasan mengapa aku sering ke ruang itu selain menjalankan tugas. Ketika rindu datang aku bisa melihat potonya di dinding ruang itu tapi sayang semua barang di situ banyak yang kusam sekarang. Aku juga merasa ruang itu sudah layak dihuni oleh hantu-hantu. Aku bukan tak ingin mempedulikanya, hanya saja aku terlalu sakit hati karena ada yang pergi tanpa meninggalkan pesan pada kami. Makanya kami terlihat bersalah di mata banyak orang.

Adinda wanita yang ku cintai, dia seperti banyak bintang di langit tapi yang menarik oleh ku hanya satu. seperti aku melihat banyak wanita di ranah ini, hanya dia. sungguh aku merindukanmu saat ini. sementar lagi dinda, semua akan terjadi,  mungkin sudah saatnya aku menulis sebuah pesan untukmu:

Dinda, apa kabar?. Dinda, sepertinya tempat kita berpijak ini sudah tua bagiku, aku akan dipersilahkan untuk pergi. Apa lah arti sebuah perpisahan jika tak ada kesan dan pesan yang ditinggalkan. Makanya aku menulis ini sebagai pesan yang ku tinggalkan di tempat kita ini. Mungkin kepergian ku tidak berarti bagimu. Aku sadar Dinda, wajah ku tak begitu tampan, aku juga bukan lelaki yang seperti kau inginkan. Namun aku sangat yakin bahwa cintaku ini adalah yang terbaik untukmu.

Dinda, kau juga akan merasakan hal sepertiku ini, tempat ini akan terasa tua dan kau harus  pergi. Itu akan terasa setelah setahun kepergianku. Disaat aku tak ada lagi di tempat itu. Aku yang selalu mengusikmu. Dinda, saat itu pula benih benih perpisahan akan tumbuh secara perlahan. Sama seperti yang ku rasakan saat ini. Perpisahan Dinda, setiap dari kita akan merasakannya. Makanya aku sangatlah mengharagai waktu dengan apapun itu, dengan siapapun itu dan pasti aku sangat mengharagai waktu denganmu. Walau itu hanya sesaat.

Dinda, tak lama lagi aku kan pergi. Kenangan diantara kita akan tertinggal di ruang tua itu. Beberapa waktu lalu aku sempat melewati ruang itu, dari luar saja aku sudah bisa mengira: setiap hiasan di dinding ruang itu sudah kusam dan berdebu. Makanya ruang itu terlihat sangat tua. Ya, aku rasa kenangan yang terindah bagiku hanya ada di runag itu. Bagiku itu kenangan mungkin tidak bagimu. Aku tegaskan dinda!, jangan kejam pada kenangan, suatu hari nanti jika kau mengingatnya jiwa mu akan terasa malu.

Dinda, bertambahnya usia kita bukanlah suatu ukuran bertambahnya kedewasaan kita akan tetapi bertambahnya usia kita harus bisa memahami arti sebuah keadaan.

Dinda, aku ingin pergi jauh dari ranah kita berpijak. Aku tak tahan lagi disini, buat apa disini jika hanya dosa ku terlihat di mata mereka. Kebaikan yang telah aku perbuat sama sekali tak terlihat dimata mereka. Memang Dinda, kebaikan itu tak sering di ungkit-ungkit. Makanya aku harus pergi. Tempat ini sudah tua untukku.

Namun Dinda, perantauan bukanlah tempat yang menenangkan banyak orang berani kesana karena harta dan ilmu. Lantas kembali karena cinta. Cinta Dinda, sesuatu yang tak pernah kau mengerti dari awal pertemuan kita, sesuatu yang tak pernah ku lihat di wajahmu yang manis itu. Jujur Dinda, sejak kau menyuruhku untuk melupakanmu, aku terus mencobanya tapi tak bisa Dinda. Mungkin belum bisa karena tuhan belum mengizinkannya.

“Susah melupakan ketimbang terlupakan. Apalagi menjauh ketimbang terjauh. Jangan paksa aku lagi dinda!. Saat ini dinda, aku akan serahkan rasa ini kepada yang maha kuasa. Aku sadar, ku harus menguatkan rasa cinta ku pada-Nya. Aku sadar, bahwa jodoh itu telah diatur oleh-Nya. Namun, disetiap kidung doa ku hanya untukmu. Entahlah Dinda! Biarkan tuhan yang mengaturnya.

Dinda, hidup ini hanya sekumpul rencana, tuhan yang menentukannya. Aku selalu berdoa pada-Nya. Agar cinta ku padamu terjaga. Dinda, perlahan aku telah belajar, belajar bagaimana bagaimana cara berharap, belajar caranya mencintai dalam diam. Namun Dinda, jangan terus memaksaku untuk melupakanmu. Aku belum mampu. Maafkan aku dinda. Jangan khawatir Dinda, aku takkan mengusikmu lagi. Tapi jika suatu hari nanti kau telah mengerti arti dari cintaku. Jangan pernah malu menghubungi aku. Sungguh rindu hanya bisa di obati dengan pertemuan walau sesingkat apa apun itu. Aku juga telah belajar bagaimana mengikhlaskan. Ikhlas jika nanti kita memang tak ditakdirkan bersama. Dinda, sebenarnya memang dari awal aku ingin menjadi kan seorang teman bukan pacar. Tapi kau yang tak bisa menerimanya. Padahal aku sangat ingin bercanda dengamu. Tertawa melepaskan sedih yang ada. Entahlah!. Sekian Dinda.

***

Sore itu, awan hitam menyelimuti Desa di tengah apitan bukit bukit, Lancang Sira Dari jauh aku menatap ruang tua itu. Jika ku tinggalkan pesan ini disitu aku takut Dinda tak pernah membacanya. Aku kacau. Ku beranikan diri untuk kesana. Ku lihat ada awim disana dia terlamun dengan bacaannya. “ranaaaa!” panggil ku.

“iya bg, ada yang bisa rana bantu?”

“ran tolong titipkan pesan ini buat dinda ya”

“ranaaa ada yang menca....ri mu” suara Dinda dari belakang ku.

“itu Dinda bg, langsung di kasi aja ke dia” kata rana.

Aku dan Dinda saling bertatapan. Senyum itu yang pernah ku lihat dulu, sudah lama aku tak melihatnya. Aku merindukannya. Ku letakan pesan itu di depan pintu ruang tua. Lalu aku berlari menjauhi ruang tua. Supaya takkan ada lagi sebuah pertemuan yang menyedihkan.

“bg... ini pesannya!” teriak Rana dari jendela ruang tua. Aku tak peduli dan terus berlari.

Suasa hening di ruang tua. Hanya ada Dinda dan rana. “Nda ni pesan dari dia” kata Rana pada Dinda. Dinda menarik pesan itu dari tangan Rana lalu berlari entah kemana.

Postingan populer dari blog ini

Sahabatmu, Juga Musuhmu

Kertas Bisikan Rindu

Tertikung