Surat untuk wanita Bergamis Kuning





     Dia adalah wanita bergamis kuning, waktu itu aku sedang berjalan di pantai sembari menikmati senja. di temani dengan sebuah alat untuk mengabadikan senja di sore itu. aku duduk di atas batu dan di sampingku ku letakan sebotol orange. di saat senja mulai terlihat, matahari meninggalkan bumi. ku ambil kameraku lalu aku mencoba mengabadikan senja. dengan penuh kesabaran aku mengabadikannya, tiba-tiba ada sesosok wanita yang menyamari warna nya senja, dia berjalan tepat di hadapanku dengan senja. aku dibuat ling lung dengan nya. diam diam aku mengabadikan nya di kameraku, parasnya begitu indah di lihat oleh mata. ini bukan nafsu, aku tak tahu. yang jelas aku ling lung di buatnya. dia terus berjalan mengakhiri ujungnya pantai. sempat terpikir olehku "itu hantu", tapi itu konyol. tanpa basa basi, aku mengikutinya berharap bisa berkenalan dengan nya. "mbak...mbak" sapaku lembut. dia menoleh ke arahku "iya" balasnya. entah kenapa hatiku ini deg degan sendirinya. apa ini bertanda cinta, ah entahlah. aku berbincang banyak dengannya, dan kami tak menyadiri senja telah berkhir. lalu mengajaknya diner bersama. dan malam ini terindah bagiku

                                                                     ***

        Hari demi hari terlewatkan, aku semakin dekat dengan wanita itu. oh iya, namanya alya fiqa. aku begitu akrab dengannya kami seperti sepasang kekasih, tapi itu hanya kesepertian. aku dan alya adalah teman dekat, tak lebih. dia selalu mencurahkan tentangnya dengan ku. dia adalah wanita penikmat senja dan sastra. secara diam diam aku mulai menanam rasa kepadanya. awalnya, aku ingin mengutarakan rasa ini,. namun setelah dia menceritakan tentang kisah cinta nya. terpaksa aku harus menanti dan bersabar. semakin dia menceritakan tentang kisah cintanya semakin pula aku terasa luka yang mendalam. alya dan kekasihnya baru saja putus, karena kekasihnya menyelingkuhinya makanya dia agak galau dan inigin mencurahkan rasa sakit hati itu. aku selalu hadir menjadi pahlawan ketika dia sedang susah, berharap dia bisa mencintaiku. hal itu kukira terjadi, ternyata tidak. alya memiliki pria yang dia cintai lagi setelah kekasihnya itu. kukira aku, ternyata bukan. terluka berat hati ini. di saat itu, tiga hari aku tak berkomunikasi dengan alya juga tak kemana mana, melainkan di depan laptop dan menikmati dunia menulisku. tiba tiba alya datang ke rumahku, dan membawa aku makanan. "kamu kenapa" perhatiannya padaku. "tidak apa apa, hanya tak enak badan" jawab pelan. "kamu sakit ya" "enggak, maksih udah mau ke rumah ya". aku begitu menahan rasa kecemburuan ku dan sakit hati. alya lalu berpamitan dan pergi meninggalkan rindu di hatiku.

        Saat itu, aku mengajak alya ke taman. aku ingin mengutarakan rasa ini dan berkata jujur, meskipun aku tau ada luka yang dalam setelah hal itu terjadi. kubiaran, karena hanya cara ini yang bisa membuat jiwa ini tenang  aku ingin masalah cinta ini cepat berakhir. ketika aku ingin mengatakanya. tiba tiba, sesosok pria hadir dan menarik bajuku lalu dia memukuli wajah ku. tanpa berpikir panjang aku langsung membalasnya. lalu pria itu membawa alya pergi, entah kemana. aku tak peduli lagi tentang alya. menahan sakit di wajahku.

        Setelah hal itu terjadi, alya menjumpaiku dan memarahi aku. dia kesal padaku, aku dimakinya.karena hubunganya dengan kekasihnya terputus sebab hal itu. terdiam tanpa kata, itu yang bisa kulakukan ketika itu. ingin menyeselesaikan hal ini, alya terlebih dahulu pergi meninggalkan ku. aku sangat merasa bersalah kepadanya. ''aku menyesal berjumpa dengan waktu itu, andai ku tak membalas sapaan mu waktu itu mungkin kejadian ini tak terjadi, kau telah menghancurkan cinta ku. aku kesal padamu. lebih baik kau pergi dari hidupku. dan jangan pernah kembali." kata alya melalui via sms.
sejak saat itu alya mulai tak hadir lagi di hadapanku, entah kemana dia perginya, aku sedikit resah dan mengkhawatirkannya. sangat merasa bersalah kepadanya, tapi aku tak tahu dia dimana untuk meminta maaf darinya

                                                                        ***

          Senja sore itu, aku duduk di batu, batu dimana pertama kali aku melihat alya berjalan di hadapan ku. aku berpikir bagaimana caranya untuk menerima kata maaf dari alya, padahal dua hari lagi aku akan pergi ke london. aku melanjutkan study kuliah di sana. kota yang sangat aku impikan sejak aku duduk di sekolah dasar. padahal aku sudah datang ke rumahnya alya, tapi dia tak ada, kata bibinya dia pergi liburan bersama keluarganya. tanpa pikir panjang lagi, ku ambil selembar kertas di tas ku, kutulis surat untuknya dan nanti akan ku titip pada bibinya, itu yang terlintas di benakku.

aku mulai menulis dengan rasa dan tangisan air mata yang mengalir di kedua pipiku;                    
  
    kau yang terkasih,

kita bertemu dikala senja memerahi bumi, di saat bulan dan bintang akan hadir menghiasi sejuknya malam.
di kala senja juga, aku menulis surat ini, sebuah surat yang ku khususkan untukmu sebagai perantaraan mulutku untuk mengucap kata maaf, alya fiqa. karena kita tidak pernah akan tau bagaimana kehidupan kita kedepanya. 
aku menulis surat ini, bermaksud untuk menyelaskan semuanya dari awal hingga akhir. alya, di saat kita bertemu di kala senja itu, aku sudah jatuh hati padamu. namun waktu itu, aku ingin mengenalmu lebih dalam dan aku memendam perasaan itu. cukup lama bukan, dua tahun lamanya aku memendamnya. tepat di saat kamu membuka dan membaca surat ini, aku ingin mengutarakan rasa ku padamu. alya, aku mencintaimu. ini bukan cinta nafsu tapi cinta tulus. selama dua tahun aku menunggumu, selama dua tahun juga kita menjalani pertemanan yang erat, aku berharap kau mencintaiku tapi itu tak terjadi kau malah mencintai pria lain. sungguh ku sesali hal itu. aku tak bisa berkutik banyak. kupasrahkan pada yang diatas, karena dia yang maha mengatahui segalanya dan dia juga yang membuat rasa cinta di muka bumi ini.
kejadian di taman itu, saat itu aku bermaksud mengutarakan rasa ini. aku tau, akan hadir luka setelahnya. namun aku harus jujur padamu, karena hatiku mulai tak terkendali. tapi apa? kekasihmu duluan hadir menarik kerah bajuku tanpa ingin tau apa apa. tapi tak apalah.
di saat kamu membaca surat ini, aku sudah tak ada lagi di indonesia. jika kamu buka sebelum dua hari (sabtu,8 Januari 2015), mungkin aku masih ada di tanah air. aku ingin melanjutkan studyku di london negara impian ku. aku cinta tanah air, makanya aku harus menimba ilmu disana, lalu kembali dan mengabdi untuk tanah air. dan juga mencintaimu hehehe!
oh iya, kamu tau gak? kenapa kamu aku sebut sebagai wanita kuning bergamis kuning, karena ketika pertama kali aku melihatmu gamis kuning mu menyamari warna senja. hmm.....heheh.

alya, maaf jika selama ini aku mengusik hidupmu, maaf jika selama ini aku menjadi provakasi di hidupmu, maaf jika aku hadir di hidupmu tapi kehadiranku sungguh tak bisa kau sesali karana itu takdir tuhan. aku pergi bukan untuk selama nya tapi aku pergi untu kembali bersama mu dan meminangmu, juga itu jika kamu sudi menerima aku sebagai imam di hidupmu. jika tidak, aku akan kembali ke london dan melanjutkan study s2 ku. entalah! kita liat nanti, mungkin kau memiliki kekasih yang jauh lebih sempurna dariku. 
alya, dengan nama allah, cintamu akan ku jaga di sana. doa kan aku alya!!!

                                                                                                                       
                                                                                                               rio, si pengusik hidupmu    
                                                                         
                                                                       ***
     
            Sejak surat itu aku titipkan pada bibiknya aku tak tau bagaimana lagi kabarnya alya. besok aku akan pergi tapi alya tidak menjumpaiku. mungkin saja dia belum kembali dari liburannya. "ya sudahlah" kata hati ku.

       Hari ini aku pergi, aku di temani  ayah dan adik adik ku ke bandara. aku kesal mama tak bisa melihat anak nya pergi merangkai mimpi, mama sedang ada tugas di luar kota. tapi aku semangat dan berbahagia. karena sementar lagi aku akan hidup sendiri. di bandara, aku tetap menunggu alya datang. namun, dia juga takdatang tapi aku harus berangkat sekarang, mungkin dia mengabaikan suratku ya sudahlah. "bismillah" dalam hatiku, aku berangkat ke london. tanpa melihat alya yang terkhir kalinya sebelum aku meninggalkan tanah airku. "alya aku akan kembali untukmu".
                 
                                                                                                                       

Postingan populer dari blog ini

Sahabatmu, Juga Musuhmu

Tertikung

Kertas Bisikan Rindu